Kembali ke Halaman Utama

Kembali ke Halaman Utama
Klik Gambar ini

Jumat, 22 Agustus 2008

MELIHAT LEBIH DEKAT KEBERADAAN

(Sebuah Tinjauan Sosio Histori)

Oleh: Andre GB

Ada yang merasa sangat kenal dengan kata ini: PUNK. Ada pula yang hanya kenal sebatas kulit. Ada yang menganggap ini hanya sekedar sebuah genre musik saja. Ada pula yang melihat ini sebagai sebuah life style dari sekelompok anak muda dalam vision quest atau pencarian jati diri. Tapi, apa PUNK itu sebenarnya?

PUNK: Sejarah Yang (di)Lupa(kan)!

Psikolog brilian asal Rusia, Pavel Semenov, menyimpulkan bahwa manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni).

Dengan definisi diatas, PUNK dapat dikategorikan sebagai bagian dari gerakan revolusi seni budaya. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu PUNK mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para penampil (performer) berkualitas rendah dan mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan hebohnya pemikiran (ideas).

PUNK juga bisa dianggap sebagai buah kekecewaan para musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stones, dan Elvis Presley. Musisi PUNK tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu PUNK adalah teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu PUNK menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat. Akibatnya PUNK dicap sebagai musik Rock n’ Roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi. Perusahaan-perusahaan rekaman pun enggan mengorbitkan mereka.

Gaya hidup ialah relatif tidak ada seorangpun memiliki gaya hidup sama dengan lainnya. Ideologi diambil dari kata "ideas" dan "logos" yang berarti buah pikiran murni dalam kehidupan. Gaya hidup dan ideologi berkembang sesuai dengan tempat, waktu dan situasi maka PUNK kalisari pada saat ini mulai mengembangkan proyek "jor-joran" yaitu manfaatkan media sebelum media memanfaatkan kita. Dengan kata lain PUNK berusaha membebaskan sesuatu yang membelenggu pada zamannya masing-masing.

Kata PUNK sebenarnya telah digunakan sejak William Shakespeare menulis The Merry Wives of Windsor. Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia, PUNK diartikan sebagai anak muda yang masih “hijau”, tidak berpengalaman, atau tidak berarti. Bahkan lebih jauh PUNK sering diartikan dan diidentikkan sebagai orang yang ceroboh, sembrono, dan ugal-ugalan. Istilah tersebut sebetulnya kurang menggambarkan makna PUNK secara keseluruhan.

Dalam bukunya yang berjudul Philosophy of PUNK, Craig O’Hara (1999) menyebut tiga definisi PUNK. Pertama, PUNK sebagai trend remaja dalam fashion dan musik. Kedua, PUNK sebagai Sang Pemula atau pelopor yang mempunyai keberanian memberontak, memperjuangkan kebebasan dan melakukan perubahan. Terakhir, PUNK sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” karena menciptakan musik, gaya hidup, komunitas, dan kebudayaan sendiri. Definisi pertama adalah definisi yang paling umum digambarkan khususnya oleh kalangan media. Tapi justru yang paling tidak akurat karena itu cuma menggambarkan kesan yang terlihat saja tanpa menyentuh hakekat dasar dari PUNK itu sendiri.

PUNK merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok PUNK oleh masyarakat awam agak susah dibedakan dari golongan skinhead. Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. PUNK berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar, permainan yang sederhana, beat yang cepat dan menghentak.

Banyak yang menyalahartikan PUNK sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris sendiri pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra PUNK karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal dan mengaku diri mereka sebagai anak PUNK. Dan itu jelas adalah sebuah kesalahan.

Dari segi fashion PUNK lebih dikenal dari apa yang mereka kenakan dan tingkah laku umum mereka, seperti potongan rambut Mohawk ala suku Indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, dan berjiwa sosial,

PUNK memang sangat tersohor di dunia musik. Itu semua dimulai dengan munculnya band PUNK fenomenal sekaligus legendaris yang dikenal dengan nama SEX PISTOLS. Band yang terbentuk pada 1972 dengan nama awal The Strand sebelum kemudian merubah nama nama menjadi SEX PISTOLS di tahun 1974. Hit mereka yang paling terkenal adalah Anarchy In The U.K dan God Save The Queen. Meski sering bergonta-ganti personil, yang paling dikenang tentu saja adalah Sid Vicious, si pembetot bass. Bahkan banyak yang menganggap popularitas Sid mengalahkan Johnny Rotten sang vokalis.

Namun energi eksplosif dan kecepatan gerak PUNK lebih dari sekadar fenomena musik belaka. Ketika berbagai party atau acara musik PUNK banyak diberangus, PUNK mengeksplorasi bentuk-bentuk seni yang lain terutama seni visual. Musik hanyalah satu aspek dari gerakan PUNK. Meski tidak dapat dipungkiri, hari ini PUNK sangat terkait erat dengan musik, mode dan grafis, namun jangan lupa PUNK juga dapat dipandang sebagai penggalan penting revolusi budaya yang lebih luas, dan menemukan ekspresinya dalam berbagai bentuk kesenian. Atau bahasa mudahnya, PUNK adalah sebuah gerakan Counter Culture yang dimulai dari seni namun pada efeknya menjadi begitu sangat berpengaruh dan boleh dibilang sukses diberbagai belahan dunia.

Kedatangan PUNK di Indonesia sendiri pada awal 1980-an, awalnya digandrungi oleh golongan menengah-atas dari beberapa kota-kota besar di Indonesia, sebagai bentuk snobisme mereka. Sebagian besar mereka mengetahui tentang subkultur PUNK dari kaset-kaset yang beredar di kalangan terbatas, disamping dari terbitan majalah-majalah musik luar negeri yang dibawa remaja yang berlatar belakang keluarga makmur (karena boom minyak) yang berkesempatan bersekolah di Eropa atau Amerika.

Pada saat itu, PUNK boleh dibilang adalah jawaban atas berbagai krisis kepercayaan anak-anak muda terhadap bentuk nyata kegagalan nilai-nilai konservatif dan feodalis yang berusaha terus dipertahankan baik oleh orang tua, maupun lingkungan sekitar. PUNK menjadi ruang bebas untuk mengekspresikan berbagai tekanan psikologis di rumah, dalam pergaulan, di sekolah, dan terutama sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tak terjawabkan di lembaga-lembaga agama.

Dekade pertengahan 1990 boleh dibilang merupakan fenomena mewabahnya musik underground di Indonesia. Pada 1997 bersamaan dengan gejolak politk, PUNK di Indonesia juga tak tinggal diam dan mulai terjun di kancah politik, sembari tetap dengan ketat menjaga prinsip-prinsip dasar Anarkisme yang melekat sebagai arian ideologi. Di berbagai kesempatan pada masa itu, PUNK membawa isu-isu politik, kekuasaan, militer, dan globalisasi dalam hampir konser/gigs underground yang mereka gagas. Dan PUNK yang hadir dengan kesederhanaan, mengusung musikalitas yang tak ribet, dengan lirik-lirik lugas di tengah-tengah gelora eufimisme bahasa Indonesia yang mengalami birokratisasi. Lirik-lirik lagu mereka menggunakan bahasa yang langsung, ringan, tidak merayakan metafora yang kelam seperti era psikodelik rock.

Awal tahun 2000, subkultur PUNK menjadi sebuah gerakan yang merasuk sampai desa, kampung atau dusun di pojok pelosok Indonesia. Beberapa scene PUNK di kota-kota kabupaten di Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, dan Kalimantan sekarang secara berkala membuat gigs, yang digeber band-band PUNK lokal. Band PUNK yang terkenal di INDONESIA adalah MARJINAL (dahulu bernama ANTI-ABRI, kemudian dirubah lagi menjadi Anti-Militari terakhir menjadi Marjinal) dan Bunga Hitam.

Etos kerja mereka yang dipadatkan dalam semboyan Do It Yourself (DIY) terutama mencuat pada 1990-an, ketika terjadi percampuran antara aksi protes (sebagai aksi politik langsung) dengan kegiatan pesta (aksi perayaan, festival). Budaya ini menyerukan gerakan counter culture atau underground di Amerika pada 1960-an, di mana politik dan pesta berbaur dan dipraktikkan menjadi ekonomi koperasi, pemanfaatan teknologi digital dan teknologi komunikasi untuk tujuan-tujuan masyarakat bebas, dan komitmen terhadap teknologi alternatif. Mengembangkan sikap mandiri, independen, termasuk dalam hal memproduksi kebutuhan-kebutuhan estetis sekaligus kontekstual mengangkat aspirasi masyarakat luas : musik, wood cut, fotografi, zine, fashion, rajah tubuh, aksesoris, buku dan komik.

Berbekal etika DIY, beberapa komunitas PUNK di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang bahkan di Manado sendiri telah, sedang dan akan merintis usaha rekaman dan distribusi terbatas. Mereka membuat label rekaman sendiri untuk menaungi band-band sealiran sekaligus mendistribusikannya ke pasaran. Kemudian usaha ini berkembang menjadi semacam toko kecil yang lazim disebut distribution outlet yang disingkat distro. CD dan kaset tidak lagi menjadi satu-satunya barang dagangan. Mereka juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesori, buku dan majalah, poster, serta jasa tindik (piercing) dan tato. Seluruh produk dijual terbatas dan dengan harga yang amat terjangkau. Dalam kerangka filosofi PUNK, distro adalah implementasi perlawanan terhadap perilaku konsumtif anak muda pemuja Levi’s, Adidas, Nike, Calvin Klein dan barang bermerek baik dalam maupun luar negeri.

Kehadiran komunitas PUNK di Manado boleh dibilang erat kaitannya dengan gejolak politik penggulingan diktator Orde Baru, Soeharto. Awalnya mereka adalah mahasiswa-mahasiswa berpikiran kritis dalam kampus yang terlibat aktif tidak hanya demonstrasi di jalanan, tapi juga pengorganisiran masyarakat pekerja (baca: buruh dan tani) yang pada masa itu merasakan akibat langsung penderitaan dan penindasan rezim militer Soeharto. Berkumpul dan melakukan berbagai varian aksi sebagai bentuk kampanye penyadaran kepada masyarakat. Haluan ideologi mereka adalah Anarkisme. Sebuah paham yang memang sejak awal telah lekat dan menjadi salah satu nilai plus dari gerakan PUNK itu sendiri.

Tapi kemudian ketika PEMILU 1999, mereka dengan tegas menarik garis batas pembeda dengan gerakan mahasiswa lain yang sudah terlanjur terkooptasi dengan berbagai kepentingan partai (rezim organisasi) baru yang memang bertumbuh subur pada saat itu. Kekecewaan muncul karena pada akhirnya gerakan mereka ditunggangi oleh kepentingan sayap kiri lain yang bercita-cita merebut kekuasaan. Perbedaan ini tak boleh dilepaskan dari konteks landasan ideologi PUNK yang seara umum menganggap segala bentuk organisasi legal, negara, partai dan perebutan kekuasaan oleh satu oligarkhi terhadap oligarkhi lain adalah sebab ketertidasan masyarakat. PUNK dan Anarkisme melihat bahwa segala bentuk penguasaan manusia terhadap manusia lain dalam topeng apapun tetaplah sebuah perbudakan. Cita-cita luhur PUNK yang mendambakan kemerdekaan manusia (secara individu maupun komune) adalah tidak mungkin jika ditambatkan pada kepercayaan terhadap negara.

PUNK dan ANARKISME

Kegagalan Reaganomic dan kekalahan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam di tahun 1980-an turut memanaskan suhu dunia PUNK pada saat itu. Band-band PUNK gelombang kedua (1980-1984), seperti CRASS, CONFLICT, dan DISCHARGE dari Inggris, The EX dan BGK dari Belanda, MDC dan Dead Kennedys dari Amerika telah mengubah kaum PUNK menjadi pemendam jiwa pemberontak (rebellious thinkers) daripada sekadar pemuja rock n’ roll. Ideologi Anarkisme yang pernah diusung oleh band-band PUNK gelombang pertama (1972-1978), antara lain SEX PISTOLS dan The Clash, kemudian disadari sebagai satu-satunya pilihan bagi mereka yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap otoritas negara, masyarakat, maupun industri musik.

Di Indonesia, istilah Anarki, Anarkis atau Anarkisme sering disalahkaprahkan kemudian digunakan oleh media massa untuk menyebut dan menyatakan suatu tindakan perusakan, perkelahian atau kekerasan massal. Padahal Anarkisme yang dicetuskan antara lain oleh William Godwin, Pierre-Joseph Proudhon dan Mikahil Bakunin, Anarkisme adalah sebuah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, dengan asumsi bahwa negara adalah sebuah bentuk kediktatoran legal yang harus diakhiri. (sebagai pembanding, baca esai saya tentang Anarkisme di www.sastra-nanusa.blogspot.com, “Menjadi Anarkis Bukanlah Sebuah Kesalahan”dan “Menghancurkan Negara, Membangun Kebudayaan” serta esei Greenhill Weol di www.sastra-minahasa.blogspot.com, Kembali Ke Jalan Yang Benar: Mari Menjadi Anarkis”. Lihat juga berbagai sumber pendukung lain di www.anarcho-maesa.blogspot.com).

Dalam pandangan kaum Anarkis, Negara menetapkan pemberlakuan hukum dan peraturan yang sering kali bersifat pemaksaan, sehingga membatasi warga negara untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kaum Anarkis berkeyakinan bila dominasi negara atas rakyat terhapuskan, hak untuk memanfaatkan kekayaan alam dan sumber daya manusia akan berkembang dengan sendirinya. Rakyat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa campur tangan negara.

Kaum PUNK memaknai Anarkisme tidak hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam keseharian hidup, Anarkisme berarti tanpa aturan pengekang, baik dari masyarakat maupun perusahaan rekaman, karena mereka bisa menciptakan sendiri aturan hidup dan perusahaan rekaman sesuai keinginan mereka. PUNK etika semacam inilah yang lazim disebut DIY (do it yourself/lakukan sendiri). Keterlibatan kaum PUNK dalam ideologi Anarkisme ini akhirnya memberikan warna baru dalam ideologi Anarkisme itu sendiri, karena PUNK memiliki ke-khasan tersendiri dalam gerakannya. Gerakan PUNK yang mengusung Anarkisme sebagai ideologi lazim lebih dikenal sebagai gerakan Anarko PUNK. Atau dengan kata lain, gerakan PUNK adalah bagian kecil dari gerakan besar Anarkisme, sedang tidak semua gerakan Anarkisme ditempuh lewat jalur PUNK.

PUNK sendiri dalam pandangan kaum Anarkis (baca: Anarcho) yang lain adalah sayap libertarian dari paham besar Anarkisme. Meski ada beberapa gelintir anarcho individualis yang tak menyukai metode gerakan yang dilakukan oleh PUNK, tapi harus diakui bahwa PUNK terbukti mampu membawa Anarkisme sampai ketitik yang paling sederhana tanpa kerumitan-kerumitan filsafat yang sebelumnya melekat. PUNK membuat Anarkisme bisa diterima banyak orang, khususnya anak-anak muda. Menjadi lebih populer dari sekedar terkekang dalam teks ataupun oral. Penggunaan inisial A besar (sebagai kependekan dari Anarkisme) dalam rima kehidupan PUNK adalah bukti erat bahwa landasan Anarkisme adalah satu-satunya landasan dasar pembangunan komune-komune dengan prinsip egaliter.

Menjamurnya komune-komune PUNK yang tersebar di berbagai tempat adalah sebuah akibat langsung merosotnya kepercayaan anak-anak muda terhadap organisasi negara, institusi agama, dan berbagai perangkat sistem lain yang diciptakan untuk memberangus ekspresi spontan yang adalah sifat dasar manusia (baca Michael Foccault, The Birth of Prison). Kegagalan dogma dan hukum legal yang tidak adil, degradasi moral yang terjadi bahkan sampai di agama (yang me-Lembaga) sebagai akibat kepercayaan terhadap sistem dominan saat ini (baca: neoliberalisme). Dan kebutuhan agar kemudian sorga yang hanya terus dijanjikan oleh agama selama ini harus menjadi realitas dalam kehidupan. Dominasi manusia terhadap manusia lain harus dihapuskan. Kebebasan individu sebagai integral hidup harus dikembalikan.

Penulis adalah Sastrawan, Pemimpin Redaksi Mawale: Jurnal Sastra Manado

Tidak ada komentar: